Wednesday

Maafkan Ibumu, Nak...

| Wednesday

Aku seorang ibu yang baru saja kehilangan suami dan seorang anak dalam suatu kecelakaan lalu lintas beberapa bulan yang lalu. Karena kecelakaan itu, kini yang kupunyai hanya si bungsu yang berusia 6 tahun kurang. Dia belum bersekolah. Rencananya, tahun depan akan kumasukkan ke SD dekat rumah saja, supaya bisa kuawasi sambil aku bekerja mengerjakan pesanan jahitan dari pelanggan.



Semenjak suami dan seorang anakku meninggal, aku memang harus mencari nafkah sendirian, demi menghidupi aku dan anakku. Kedua orangtua kami, baik dari pihakku dan almarhum suami berdiam di seberang pulau. Aku memilih tidak pulang kampung, karena aku ingin berdekatan selalu dengan makam suami dan anakku. Jadi, di sinilah aku, hidup berdua dengan anak semata wayang di pinggir kota yang tenang.



Sejak kehilangan suami dan seorang anak membuatku menjadi obsesif terhadap putra semata wayangku kini. Apalagi marak berita tentang penculikan anak, baik untuk dimintai tebusan, ataupun di gunakan sebagai pengemis jalanan. Jadinya, aku akui aku sedikit mengekang kebebasan bermain dirinya dengan anak-anak sekitar. Aku hanya mengijinkan dia bermain sejauh mataku masih bisa memandangnya. Kalau dia mau bermain agak jauh bersama teman-temannya, harus minta ijin dulu padaku. Syukurlah, anakku bocah yang penurut pada ibunya, sehingga aku tidak terlalu kerepotan mengawasinya.



Pagi ini, saat aku masih berkutat di dapur untuk makan siang kami, dia menghampiriku. “Bu, Adek mau main sepeda ama Syahid. Boleh ya, Bu?” tanyanya penuh harap.

Baca selengkapnya »

Related Posts

No comments:

Post a Comment