“Apa
kabar, Ren?”
Tulisan
itu muncul di chat box fbku. Sebut saja
namanya Tiar, seorang sahabat sejak masa kuliah dulu. Kujawab kabarku baik, dan
aku balik bertanya mengenai kabarnya saat ini.
“Aku
merasa tidak ada gunanya hidup,” tulisnya. “Aku merasa hampa dan tidak ada yang
menyayangi dan peduli padaku,” lanjutnya dalam barisan tulisan berikutnya.
Aku
terenyuh membacanya. Aku mengenal baik sahabatku ini. Aku juga sedikit banyak
tahu permasalahan yang dia hadapi. Perceraian. Padahal usia pernikahannya baru
seumur jagung. Suatu pernikahan yang dinanti-nantinya selama bertahun-tahun,
cuma dinikmatinya kurang dari 1 tahun. Melihat hal ini, aku tahu, komunikasi
lewat chat box kurang efektif untuk melipur dukanya. Maka kuputuskan untuk
meneleponnya.
No comments:
Post a Comment